Senin, 21 Juli 2014

Only You #3





Udah lama aku ga ngelanjutin FF gara-gara sibuk ngurusin sekolah, akhirnya bisa ngelanjutin juga haha. Happy Reading guys ^^

Semua mata kuliah sudah selesai. Waktunya mahasiswa dan mahasiswi berhamburan pulang kerumahnya. Kebetulan hari ini Luna tidak dijemput oleh supirnya, karena ada sesuatu hal. Luna berjalan menuju gerbang kampus. Tiba-tiba dari kejauhan ada yang memanggil namanya

“Lunaaaa” panggil seseorang

Luna menengok kebelakang. Terlihat Marc yang sedang berlari mengejarnya. Marc mendekat dengan napas yang masih tersengal-sengal.

“Ada apa Marc?” Tanya Luna. Marc masih mengatur napasnya

“Kamu pulang dengan siapa? Di jemput supir?” Tanya Marc

“Hmm.. tidak. Sepertinya aku harus naik taksi. Soalnya supirku ada urusan” Jawab Luna

“Mau pulang denganku?” Tanya Marc

“Boleh” Jawab Luna lalu tersenyum

Lalu mereka berjalan menuju tempat parkir. Namun, belum sampai tempat parkir, mereka berdua melihat Scott mendekat ke arah mereka

“Lun, boleh kita bicara berdua sebentar?” Tanya Scott sambil memegang tangan Luna. Tapi Luna menepisnya dengan kasar

“Mau bicara apa?” Tanya Luna yang mendongak ke atas. Ya, karena Luna kalah tinggi dengan Scott. Bahkan tinggi Scott melebihi tinggi Marc

Scott melihat ke arah Marc sekilas. Lalu berbicara, “Boleh kamu meninggalkan kita berdua sebentar Marc” Pinta Scott ke Marc

“Baiklah. Aku tunggu di tempat parkir Lun” Jawab Marc sambil tersenyum ke Luna lalu pergi meninggalkan mereka berdua

“Mau bicara apa?” Tanya Luna sekali lagi

“Masalah tadi malam, aku minta maaf ya,” Scott mengatur napasnya “Aku menyesal telah melakukannya. Semenjak kita putus tadi malam, wanita itu pergi begitu saja dari hadapanku” Ungkapnya

“Lalu?” Tanya Luna cuek

“A..Aku minta maaf” Kata Scott terbata bata

Luna melirik sekilas wajah Scott yang tampak menyesal

“Permintaan maaf mu tidak bisa mengobati rasa sakitku melihatmu berduaan dengan wanita lain Scott” Ucap Luna sambil menahan air matanya

“Aku minta maaf Lun. Aku benar-benar menyesal” Kata Scott dengan penuh sesal

Luna diam sejenak, Scott benar-benar tulus minta maaf. Tidak biasanya dia menyesal seperti ini batin Luna.

“Baiklah aku maafkan. Tapi kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini Scott” Jawab Luna

“Terima kasih Lun,” Scott mengambil kedua tangan Luna, “Apa kita masih bisa berteman?” Tanya Scott

“Iya,” Luna melepaskan tangannya, “Aku mau pulang dulu Scott” Lanjutnya

“Baiklah” Kata Scott sambil tersenyum

Luna tersenyum lalu pergi menuju  tempat parkir. Marc sudah menunggunya disana. Dia berjalan sangat terburu-buru. Terlihat dari kejauhan Marc sedang menunggu di samping mobilnya sambil memainkan kunci mobil

“Maaf sudah membuatmu lama menunggu Marc” Kata Luna

“Ya gapapa,” Jawab Marc lalu membukakan pintu mobilnya, “Masuklah” Pintanya

Mereka pun meninggalkan halaman kampus menggunakan mobil Marc. Didalam mobil, Luna hanya diam. Sesekali Marc melirik wajah Luna. Tidak ada air mata, tidak ada raut kesedihan yang tampak di wajah Luna. Marc pikir, jika Luna bertemu dengan Scott, Luna akan menangis. Ternyata tidak. Prediksinya salah. Luna tampak biasa saja. Marc makin penasaran dengan pembicaraan Luna dan Scott tadi. Diberanikannya ia membuka mulut

“Lun, tadi Scott bilang apa aja?” Tanya Marc memecah keheningan di dalam mobil

“Dia cuma minta maaf” Jawab Luna

“Lalu, kamu memaafkannya?” Tanya Marc sekali lagi

“Iya, tampaknya dia tulus minta maaf padaku. Lagian kita ga melanjutkan hubungan lagi kok. Kita hanya berteman sekarang” Jawab Luna lalu tersenyum

“Benarkah?” Tanya Marc yang tampak senang

“Iyaa” Jawab Luna. Marc hanya tersenyum

Mobil Marc berhenti di depan rumah Luna. Luna melepaskan sabuk pengaman yang ada ditubuhnya, bersiap-siap untuk keluar mobil.

“Terima kasih Marc sudah mau nganterin aku pulang” Ucap Luna

“Sama-sama” Jawab Marc

Luna membuka pintu mobil. Bersiap untuk keluar. Namun tangannya di tahan oleh Marc. Luna menoleh kearah Marc.

“Ada apa Marc?” Tanya Luna bingung

“Hmm Lun, nanti malam kamu ada acara ga?” Tanya Marc. Ia melepaskan tangannya dari tangan Luna

Luna berpikir sejenak, “Ga ada, Kenapa?” Luna menunjukkan senyum manisnya

“Nanti malam kita makan bareng yuk” Ajak Marc

“Hmmm... Boleh” Jawab Luna

“Nanti malam jam 7 aku jemput ya. Kamu dandan yang cantik, oke?” Pinta Marc

“Siap boss” Jawab Luna sambil hormat ke Marc. Mereka pun tertawa

***

Marc memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Ia keluar dari dalam mobil dengan langkah yang sangat cepat lalu masuk kerumah. Tumben rumah sepi batin Marc. Ia pun menaiki tangga untuk ke kamarnya. Ia buka pintu kamarnya, tanpa ditutup kembali. Direbahkan tubuhnya di atas kasur, dan tasnya di lempar juga di atas kasur. Alex yang kebetulan melintas di depan kamar Marc, melihat dengan jelas kakaknya ngomong-ngomong sendiri. Aneh. Ya, kata itu lah yang ada di benaknya sekarang. Alex pun masuk ke kamar Marc lalu mengagetkannya

“Duuuuuaaarrrr...” teriak Alex mengejutkan Marc. Marc pun kaget dan langsung toyor kepala Alex

“Ngagetin aja kamu Lex. Jantung mau copot nih mau copot” Protes Marc sambil megang-megang dadanya

“Halah lebay, kenapa ngomong-ngomong sendiri Marc?,” Alex duduk di samping Marc, “kaya orang gila aja, emm aku tau..” Katanya

“Apaaa??” tanya Marc

“Pasti ketularan kulit manggis ada ekstraknya ya? Makanya ngomong-ngomong sendiri hahaha” jawab Alex lalu tertawa terbahak-bahak

“SHUUUTT UPPPP!!,” Marc menutup-nutupi mulut adiknya sampai terjungkang ke kasur, “Bukaan. Sok tau kamu”

“Hhmm, pasti masalah cewek. Yakan, yakaaaaaaaannn??” ledek Alex sambil coel-coel pipinya Marc

“Kamu ga perlu tau,” mukanya memerah. Marc langsung menggiring Alex keluar dari kamarnya, “Udah sana-sana keluar Lex!” serunya

“Cieee pipinya merah meronaaa cihuyy. Cieee cieee yang udah deket sama cewek” ledek Alex lagi yang badannya masih di dorong-dorong Marc

Marc langsung mengunci pintu kamarnya lalu mendengus kesal

***

Malamnya, Luna bersiap untuk pergi makan dengan Marc. Dia memakai dress berwarna merah. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. Sebenarnya Luna sudah cantik natural, makanya dia tidak usah repot-repot berdandan. Tak lupa dia membawa tas tangan kecil, dan HP pastinya. Dia berjalan menuruni tangga rumahnya. Diruang tamu dia melihat mommy nya yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah. Mommy nya tampak bingung dengan Luna, tidak biasanya dia keluar rumah malam-malam dengan paras cantik seperti ini

“Lho Lun,” Mommy nya bangkit dan menaruh majalahnya di sofa, “Kamu mau kemana malam-malam gini? Pakai dress segala?” Tanya mommy nya

Luna menepuk keningnya, “Oh iya aku lupa memberi tahu mommy hehe,” Dirapikannya poni yang menutupi matanya, “Aku mau makan sama Marc mom” Jelas Luna yang semakin membuat mommy nya bingung

“Marc? Siapa dia? Ga sama Scott?” Tanyanya berkali kali

“Marc itu teman kampusku mom. Dan Scott, hmmm,” Luna menarik napas, “Aku sudah putus sama dia. Dan sudah tidak menjalin hubungan apa-apa lagi” Jelasnya

“Oooh begitu,” Mom nya merapikan sedikit baju Luna yang terlipat, “Kamu mengingatkan masa muda mommy dengan daddy mu” Ucap mom nya.

Daddy nya Luna memang sudah meninggal sejak Luna kelas 2 SMA akibat kecelakaan. Mommy nya sangat terpukul. Luna dan mom nya mencoba melupakan kejadian itu

Luna meraih tubuh mom nya dan memeluknya, “Maaf mom, aku sudah membuatmu sedih” Perlahan air mata Luna turun

Mom nya melepaskan pelukannya. Menghapus air mata anaknya dengan kedua ibu jarinya

“Kok jadi kamu yang nangis sih? Hey, kamu kan mau pergi sama Marc, hm?” Tanya mommy nya

Tinn..Tinn..

Terdengar suara klakson mobil dari arah luar

“Tuh kan Marc sudah datang” kata mom nya

“Oh iya, aku berangkat dulu ya mom”

“Hati-hati sayang” Kata mommy nya

“Iya mom” Luna lalu pergi keluar. Mommy nya memandang punggung anaknya itu. Dan tanpa sadar, air matanya jatuh membasahi pipi wanita paruh baya itu. Cepat-cepat ia mengusap air matanya

Luna berjalan keluar menghampiri Marc. Lelaki itu sudah menunggunya. Ekspresinya berubah ketika melihat penampilan Luna malam ini, ia tampak terpesona seperti sedang melihat bidadari yang turun dari surga #Eaak. Luna berjalan pelan ke arah Marc. Marc tersenyum menunjukkan deretan giginya. Lama kelamaan Luna semakin dekat dengan Marc. Tapi ada yang aneh, kenapa matanya Luna merah?

“Eh, Lun. Mata kamu kenapa merah? Abis nangis?” tanya Marc

“Ohh gapapa kok Marc”

“Seriusan gapapa?” tanya Marc lagi

“Iyaa Marc. Emang kenapa? Jelek ya aku?”

“Eh.. bu..bukan gituu,” Jawab Marc gugup, “Kadar kecantikan kamu ga berkurang kok walaupun lagi nangis” gombal Marc

“Ihh gomball” ucap Luna sambil memukul pelan dada Marc

“Hahaha,” Marc membukakan pintu mobilnya, “Masuk lah”

Luna pun masuk kedalam mobil, disusul dengan Marc yang duduk disampingnya untuk menyetir. Marc langsung tancap gas menuju restaurant

Mobil Marc berhenti di halaman restaurant. Marc buru-buru keluar mobil, lalu membukakan pintu untuk Luna keluar. Luna hanya tersenyum sambil menunduk tersipu malu. Mereka berjalan kedalam restaurant, lalu duduk berhadapan. Dilanjutkan dengan memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka pun mengobrol

“Hmm Marc, kamu ngapain ya ngajak aku kesini? Tumben” tanya Luna

“Sebenarnyaa,” belum selesai bicara, pesanan mereka datang, “Nanti saja, makan dulu ya” pinta Marc

“Yasudah”

Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku gugup melakukannya batin Marc sambil mengaduk-aduk pasta yang di pesannya.

“Marc, kenapa pastanya hanya di aduk-aduk? Dimakan dong” kata Luna sambil memotong steak nya

“Oh iya,” Marc nyengir lalu memakan pastanya, “Hmm, Lun aku mau ngomong sesuatu sama kamu”

“Apa?” Tanya Luna

“Taruh dulu pisau sama garpu mu” pinta Marc

Luna pun mengikuti permintaan Marc, “Sudah. Mau ngomong apa?” tanyanya penasaran

Marc mengambil kedua tangan Luna

“Kamu tahu, sejak aku pertama melihatmu, aku sudah suka sama kamu Lun,” Marc diam sejenak. Luna hanya tercengang mendengar penjelasan Marc,”jadi, kamu mau ga menjadi pacar ku?” tanya Marc

Luna masih terdiam. Bingung. Ya, hanya kata itu lah yang ada dibenak Luna sekarang.

“Kamu serius? A..aku takut kalau nantinya kamu seperti Scott” ucap Luna. Ia hanya menunduk

“Aku janji tidak akan seperti Scott, Lun. Aku sayang sama kamu,” tangannya masih menggenggam tangan Luna, “jadi?” tanya Marc sekali lagi

Luna mengangguk lalu tersenyum

“Hah terima kasih Lun” kata Marc lalu mengecup lembut punggung tangan Luna

“Hehe,” Luna terkekeh, “Makan dulu yuk” ajaknya. Marc mengangguk semangat

Setelah makan, Marc mengantarkan Luna pulang. Di dalam mobil, mereka berdua terus-terusan tertawa dan sampai akhirnya mobilnya Marc sudah berada di depan rumah Luna

***

Besoknya, Marc bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Dengan semangat ia menuju mobilnya. Kurang lebih 10 menit, mobilnya sudah berada di halaman kampusnya. Ia keluar mobil, dan tak lupa membawa tasnya. Buru-buru ia menuju kelasnya untuk bertemu Dani.

Sampai didepan pintu, Marc melihat Dani sedang menulis sesuatu dibukunya. Ia berjalan pelan tanpa suara agar tidak diketahui Dani. Diam-diam Marc mengintip tulisan yang ditulis Dani. My Lovely Ines Claudya. Itulah tulisan yang ditulis Dani. Marc langsung toyor kepala Dani dari belakang. Sontak, Dani menengok kebelakang

“Ih, situ dateng dari mana? Dateng-dateng langsung toyor kepala orang lagi” Protes Dani

“Haha maaf maaf. Oiya Dan,” Marc duduk disebelah Dani,” Ada kabar gembira lho” lanjutnya

Dani mengerutkan dahinya, “Kulit manggis ada ekstraknya ya?” canda Dani

“Ih, kamu sama aja kaya Alex. Kulit manggis apaan tau”

“Nah, itu si Alex aku yang ngajarin tuh hahaha”

“Ajaran sesat haha” canda Marc

“Emang apa sih kabar gembiranya?” tanya Dani penasaran

Marc hanya bisa nyengir

“Yeeee, malah nyengir lagi” cibir Dani

“Haha, gini nih,” Marc mendekatan mukanya ke Dani,” Aku pacaran sama Luna” bisiknya

“Waaaah akhirnyaaaa temenku yang satu ini udah punya pacar jugaaaa,” Dani menepuk-nepuk pundak temannya, “Congrats ya broooo” lanjutnya

“Thank you broo haha”

“Traktiran laah” kata Dani sambil mengedip-ngedipkan matanya

Marc menatap sinis Dani, “Waktu situ pertama jadian aja ga nraktir” protesnya

“Eh iya ya” Dani lalu nyengir

***

Jam istirahat datang, Luna sibuk memasukan buku-bukunya kedalam tas. Sahabatnya, Ines sudah lebih dahulu keluar kelas. Saking buru-burunya ia memasukan buku ke dalam tas, tak sengaja salah satu bukunya ada yang jatuh. Belum sempat ia mengambil bukunya, ternyata ada seseorang yang mengambilnya. Luna mendongak ke atas, ternyata..

“Marc?” sapa Luna kaget

Marc memberikan buku Luna yang terjatuh. Luna mengambilnya lalu memasukan buku itu ke tasnya

“Terima kasih” kata Luna lalu tersenyum

“Yap sama-sama,” Marc mengacak-acak lembut rambut Luna,” ke kantin yuk” ajaknya

“Ayuuk”

Mereka pun berjalan berdua ke kantin, sambil bercanda-canda ria. Tapi, ada yang aneh. Luna daritadi tidak melihat Scott. Untungnya ada Jennifer -Teman sekelas Scott- yang lewat didepannya, karena penasaran, Luna pun bertanya ke Jennifer

“Jenni, Scott kemana? Kok ga keliatan daritadi” tanya Luna

Scott kemana? Kok ga keliatan daritadi. Entah, kata-kata itu membuat hati Marc sakit. Apa Luna masih mengharapkan Scott? Hmm, tapi aku ga boleh berprasangka buruk. Toh, kemarin dia sudah berteman, dan ga ada hubungan apa-apa batin Marc

“Lho, emang kamu belum tau Lun?” tanya Jenni

Luna mengerutkan dahinya, “Kenapa memangnya?” tanya Luna sekali lagi

“Scott sudah pindah kampus, katanya sih ke Perancis” jawab Jenni

Pindah? Batin Luna, “Oh ok, thanks Jenn”

“Sama-sama” Jenni langsung meninggalkan mereka berdua yang masih tampak bingung

Marc menggandeng tangan Luna untuk menuju ke kantin

***

“Beb, kamu tau ga?” tanya Dani

“Apa beb?”

“Marc sudah jadian sama Luna lho” jelas Dani

“What? Serius kamu beb?” tanya Ines yang tampak kaget

“Iyaa, tadi Marc sendiri yang bilang ke aku”

“Tapi kok Luna sendiri ga bilang ke aku ya” cetus Ines

“Hmm, mungkin dia malu haha” kata Dani lalu tertawa

“Malu kenapa? Aku kan sahabatnya”

“Entah”

Sedang asyiknya mereka ngobrol, bel masuk berbunyi. Ines buru-buru ke kelasnya untuk menemui Luna. Ternyata di kelas, Luna belum tampak. Ines lalu duduk di kursinya. Dan tak lama, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang

“Lun, kamu udah jadian sama Marc?” tanya Ines

“Iyaa hehe, tau darimana?” tanya Luna balik

“Dani dong. Oiya btw congrats yaaa” ucap Ines

“Makasih temaaan”

“Sama-sama,” Ines tersenyum, “Tapi, kenapa kamu ga ngasih tau aku sih?”

“Ah maaf Nes” Luna terkekeh

Ines menatap sahabatnya itu sejenak, “Oke lah”

***

“Lun, pulang bareng yuk!” ajak Marc

“Yah, aku bawa mobil sendiri nih” jawab Luna

“Hhmm, tapi lain kali bareng aja ya sama aku” Marc terkekeh

“Haha oke, aku pulang dulu ya” kata Luna lalu tersenyum

“Hati-hati ya”

“Iyaa hehe”

Luna langsung menuju mobilnya, dan langsung tancap gas. Tampaknya, ia sangat senang hari ini. Di tengah jalan, ia menginjak rem mobilnya. Tapi, ada yang aneh. Kenapa remnya tidak berfungsi? Berkali-kali ia menginjak remnya, tapi masih tidak berfungsi. Remnya blong!. Di depannya tampak orang sedang menyebrang. Refleks, Luna langsung membanting stir. Namun, mobilnya menabrak pembatas jalan. Bagian depannya hancur, dan Luna tidak sadarkan diri. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung membawanya kerumah sakit

***

Marc merasakan handphonenya bergetar di saku celananya. Ia ambil handphonenya lalu melihat nama yang meneleponnya. Dani. Ia yang meneleponnya

“Halo?”

“Marc, gawat Marc”

“Kenapa sih?”

“Luna kecelakaan”

“Apa? Kok bisa? Dimana dia sekarang Dan?” tanya Marc mulai panik

“Nanti aku SMS alamat rumah sakitnya ya”

“Oke, makasih Dan” Marc menutup percakapannya dengan Dani

Tak lama, handphonenya bergetar, ada pesan masuk. Ya, itulah alamat rumah sakitnya. Marc langsung menuju rumah sakit yang di SMS Dani tadi. Hatinya gelisah

Setelah sampai di rumah sakit, ia bertemu dengan Dani. Mereka berjalan cepat menuju ruangan Luna. Disana sudah ada mommy nya Luna yang sedang menangis dipelukan Ines. Marc ingin bertanya ke mom nya Luna, tapi ia urungkan niatnya karena melihat mom nya Luna yang terisak. Ia duduk dengan gelisah di ruang tunggu

Tak lama, dokter yang menangani Luna keluar. Semua yang sedang menunggu lalu berdiri

“Bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya mom nya Luna yang masih terisak

“Anak ibu masih belum sadar, tapi..” dokter tersebut diam sejenak

“Tapi kenapa dok? Kenapa?” tanya mom nya Luna

Marc, Dani, maupun Ines hanya gelisah menunggu pernyataan dokter tersebut. Air mata Ines sudah tidak 
terbendung daritadi. Sementara Marc, ia mencoba tegar. Ia tidak mau menangis di depan semua orang

“Luna kenapa dok?” kali ini Ines yang bertanya

“Luna mengalami..”


To Be Continued....


Gaje ya? Iya emang gaje haha. Comments below or mention on my twitter. Thanksssssssssssss :)

Selasa, 17 Juni 2014

Serial Comedy : Ketika Puasa Datang



Ramadhan udah dikit lagi nih, kan kan kan? Nah, kali ini aku nulis FF komedi edisi Ramadhan. kalo ga lucu, atau gaje maaf ya. Oiya, buat yang Non Muslim, maaf kalo cerita ini mungkin nyinggung perasaan kalian, Di buat have fun aja ya ;). Okay, Happy Reading ^^

Malam itu, Marc dan Alex sedang bersantai-santai diruang tamu rumahnya. Marc sedang memainkan PS Vita-nya, Alex sedang mengotak-atik channel TV. Namun ketika Alex melihat acara berita, wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi kaget.

“Mampus guee” Kata Alex kaget sambil menepuk keningnya

Marc yang sedang memainkan PS Vita-nya, langsung mengalihkan pandangannya dari layar PS Vita ke Alex.

“Lah lu kenapa dah Lex?” tanya Marc yang dilanjutkan bermain games MotoGP-nya itu

“Lu liat tuh berita Marc!” Seru Alex sambil menunjuk-nunjuk layar TV

“Kenapa? Ada yang salah?” Tanya Marc lagi

“Ampunn daah, lu ga liat tulisannya noh?,” Tanya Alex sambil menggelengkan kepalanya, “Besok lusa puasaaaa” Lanjutnya

“Alhamdulillah..” Ucap Marc singkat

“Hah??? Yaa iyaa gue tau lu anak alim Marc. Tapi tuh yaa, gue ga tahan sama lapernya itu lho Marc” jelas Alex.

Memang dari dulu, setiap Bulan Ramadhan datang, perilaku Alex berubah. Yang tadinya perilaku Alex suka jahil, pecicilan(?), daaaan masih banyak berubah menjadi pendiam. Hhmm... mungkin itu efek dari rasa lapar akibat puasa. Beda dengan Marc. Marc malah lebih semangat berpuasa. Entah, perilaku mereka berdua itu berbeda 180o .

“Makanya, kalo lagi sahur tuh niat yang ikhlas. Jadinya, sampe maghrib tuh rasa lapar ga ada apa-apanya,” Tutur Marc, “Udah ah, gue mau kekamar dulu. Mau tidurr. Byee” Lanjut Marc lalu ke kamar

“Nasihatin aja terus NASIHATIN!!” Tekan Alex yang di sambung dengan ketawa kecil dari Marc

***
Besoknya, Marc dan Alex bermain sepeda. Tapi, di tengah perjalanan mereka bermain sepeda, mereka bertemu dengan Rins. Mereka pun langsung ngobrol-ngobrol kaya ibu-ibu arisan(?)

“Eh Rins, lu tau gak?” Tanya Alex memulai pembicaraan

“Tau apaan Lex?” Tanya Rins penasaran

“Aahh, I Know. Pasti si Alex mau bicarain tentang puasa ke Rins” batin Marc

“Nih yaa,, lu udah tau belom besok itu puasa?” Tanya Alex lagi

“Nah kan bener” Batin Marc sambil geleng-geleng kepala

“Iya tau Lex. Kenapa?” Tanya Rins cuek

“Aduhh,” Alex menepuk jidatnya, “Susah ya ngomong sama orang alim” ucap Alex melas

“Ihh, bukannya enak ya puasa? Banyak dapet pahala” Kata Rins sambil menjulurkan lidahnya

“Nah betul tuh kata Rins Lex!. Hahaha” seru Marc yang kemudian tertawa terbahak-bahak

“Iyadaahh” Ucap Alex pasrah

“Hahaha kasian lu Lex,” Kata Marc, “Ayok lah main sepeda. Rins, sepeda lu mana dah? Ayok main sepeda bareng-bareng” ajak Marc

“Iya, gue ambil sepeda dulu ya” kata Rins yang dilanjutkan mengambil sepedanya di garasi mobil rumahnya

Setelah semua sudah lengkap, mereka pun bermain sepeda bersama-sama

-SKIP-

Malamnya...

Keluarga Marquez bersiap-siap untuk pergi tarawih di masjid dekat rumahnya. Marc memakai baju koko putih, dan memakai celana jeans. Layaknya anak muda jaman sekarang. Begitu pun Alex, dia memakai baju yang hampir sama dengan Marc. Nah dari sini sudah terlihat perbedaan ekspresi dari Marc dan Alex. Marc terlihat sangat bersemangat untuk pergi terawih, Alex malah terlihat kurang bersemangat. Lanjut ke mom Roser. Ia memakai mukena dari rumah layaknya ibu-ibu yang lain. Sementara dad Julia, ia memakai baju koko dan memakai sarung.

Setelah semua sudah siap, mereka pun langsung capcus(?) ke masjid. Masjid nya memang tidak jauh dari rumah mereka. Kurang lebih hanya membutuhkan waktu 5 menit saja. Sampai di masjid, Alex melihat anak-anak yang sedang bermain petasan. Selagi keluarganya tidak ada yang melihat, Alex malah menghampiri anak-anak itu.

“Bang Alex, main petasan bareng yok” ajak salah satu anak

“Hmm.. ntar di omelin pak ustadz kagak?” bisik Alex

“Ahelah takut banget bang. Kagak diomelin kok. Ayok bang mau ikutan kagak? Seru lhoo” ajak anak yang lain

“iya dah ayok. Sini abang minta satu” pinta Alex sambil menyodorkan tangannya

“ALEEEEEEEX!!!” seru seorang lelaki dari kejauhan

“Ada yang manggil? Kayanya gue kenal ni suara,” batin Alex kemudian menengok ke belakang. Ternyata, Marc yang memanggilnya

“Eh, lu Marc” ucap Alex malu

“Lu ngapain main sama bocah-bocah ha? Inget Lex lu udah 18 tahun.masih aja main petasan. Ga malu sama umur?” Tanya Marc berkali-kali

“Iya Marc maaf. Abisnya mereka tuh yang ngajak-ngajak,” balas Alex sambil menunjuk ke belakangnya. Tapi ketika Alex melihat kebelakang, anak-anak itu sudah kabur, “Lah kemana ini bocah-bocah? Waah jangan-jangan kabur lagi nih” Lanjutnya

“Udah ayok ke masjid. Udah mau mulai noh” ajak Marc dan langsung menarik-narik tangan Alex

Di dalam Masjid...

“Aduhh Lexx, kamu darimana aja nak?” Tanya dad Julia resah

“Ini dad, masa udah umur 18 tahun masih main petasan sama bocah-bocah” jelas Marc. Tatapannya sinis ke arah Alex. Alex pun hanya menunduk

“Aku minta maaf Dad, Marc” ucap Alex

“Iya dad maafin. Tapi lain kali jangan diulangi lagi ya” pinta dad Julia

“Iya dad, janji deh” kata Alex

Selesai berdebat, mereka memulai shalat tarawihnya. Kebetulan, malam pertama tarawih  yang menjadi Imam adalah ustadz Bradl –keren banget namanya-

***

Tok...tok...tok... Mom Roser mengetuk pintu kamar Alex membangunkannya untuk sahur

“Alexx, bangun sahur” ucap mom Roser agak keras dan masih menetuk pintu kamar Alex.

“Ah.. mama masih ngantuk nihh” kata Alex kemudian tidur lagi

“Eh, bangun Alex. Udah mau imsyak nih” Canda mom Roser agar Alex terbangun dari tidurnya. Tak lama pintu terbuka. Keluarlah Alex yang masih mengantuk. “Hooaaamm...”

“Udah ayo keruang makan” Ajak mom Roser

Alex dan mom Roser pergi kebawah untuk sahur. Ternyata diruang makan sudah ada Marc dan dad Julia.

“Dasar kebo lu Lex” Ucap Marc sebal

“Kenapa? Ga suka?” Tanya Alex sinis

“Udah, jangan berantem. Cepat makan. Jangan lupa baca niat” pinta dad Julia

“Iya dad” Jawab Marc dan Alex serentak

Waktunya Imsyak!!! Selesai sahur, Alex pergi kekamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Sementara Marc, dia membantu mom Roser di dapur. Ngapain? Bantu nyuci piring kali ya? Kan Marc rajin hahhaha. Oke lanjut ke topik. Sementara dad Julia menonton TV diruang tamu sambil menunggu Adzan Subuh...

...Adzan Subuh berkumandang

“Marc, kamu bangunin Alex sana. Kita shalat Subuh berjamaah dirumah saja” pinta dad Julia

“Oke dad” balas Marc lalu kekamar Alex

Marc naik keatas, ke kamar Alex. Ternyata pintunya tidak dikunci. Marc langsung masuk ke kamar Alex dan membangunkan adiknya itu

“Lex. Lex bangun! Tidur mulu lu ah. Shalat Subuh berjamaah ayok” ajak Marc sambil menggoyang-goyangkan tubuh adiknya

“Aduhh Marc baru aja gue tidur udah dibangunin lagi aja” ucap Alex lalu duduk sambil mengucek-ucek(?) matanya

“Dasar kebo! Ayo cepetan. Dad udah nunggu” pinta Marc ga sabaran

“Iyeee... sabar napa lu ah” ucap Alex

Kemudian mereka pergi ke ruangan khusus shalat di rumah keluarga Marquez. Alex dan Marc langsung mengambil air wudhu. Mom Roser dan dad Julia sudah lama menunggu mereka. Setelah selesai berwudhu, mereka berempat pun langsung melaksanakan shalat subuh berjamaah.

-SKIP-

Siang itu sangat panas. Membuat Alex makin cerewet minta buka. Padahal masih siang, tapi Alex sudah kaya anak kecil pingin minta puasa setengah hari.

“Marc, gue puasa setengah hari ya. Ya ya ya” Alex memohon sambil memasang muka oenyoe(?) –Authornya alay-

Marc hanya diam dan cuek dengan permohonan adiknya itu

“Ihh Marc kok lu cuek gitu sih?” Tanya Alex sebel

“Lu jangan kaya anak kecil deh Lex, masih siang ini woy!” Seru Marc

“Tapi panas banget iniii... aus lagi”

“Ohh mau puasa setengah hari nih?” Tanya Marc, disambung dengan wajah girang Alex

“IYA MARC MAUUUU” teriak Alex

“Okay, gue telpon ustadz Bradl dulu ya” Canda Marc. Marc mengambil Hpnya lalu menyentuh beberapa nomor telpon

“WHAT??!! Eh kalo gitu ga jadi deh” Alex pasrah

“Hahaha gitu dong adikku yang ganteng dan oenyoe” kata Marc

Namun, disela-sela mereka berdebat, bel rumah berbunyi. Marc bangkit dari sofa lalu membukakan pintu rumahnya. Ternyata mom Roser yang datang, dia abis dari rumah temannya. Alex yang melihat momnya datang, langsung menghampiri mom Roser di pintu. Setelah itu mereka berdua mencium tangan mom Roser (Salim).

“Mom, hari ini panas banget ya” kata Alex sambil kipas-kipas dengan tangannya

“Lex, kalo lu mau minta puasa setengah hari ke mom, gue jitak mau lu?” Bisik Marc

“Kenapa kalian bisik-bisik?” Tanya mom Roser bingung dengan tingkah laku kedua anaknya itu

“Eh engga mom” Kata Marc tersenyum

Sementara itu, Alex hanya bisa menunduk

“Alex kenapa nak? Kok nunduk gitu?,” Mom Roser mengambil pipi Alex untuk melihat muka momnya, “Gara-gara puasa kamu lapar? Atau haus?” Tanya mom Roser bertubi-tubi

“Iya mom Hausss” Kata Alex girang. “Naah, jangan-jangan mom ngebolehin nih kalo gue puasa setengah hari” Batin Alex.

“Tunggu sampai maghrib ya nak. Dikit lagi kan mau maghrib tuh” Kata mom Roser sambil menunjuk ke arah jam dinding. Lalu ia pergi menaiki tangga untuk ke kamarnya.

“Padahal ini kan masih siang, kok dikit lagi mau maghrib?” Tanya Alex pada Marc

“Hahahahaha... yang sabar ya Lex. Gue ngerti perasaan lu kok” Canda Marc sembari menepuk pundak Alex lalu pergi kekamarnya

Alex tidak menjawab perkataan kakaknya. Lalu ia menutup pintu dan berjalan lemas ke sofa.

***

Ustadz Bradl yang sedang memimpin acara bapak-bapak di masjid mengumumkan bahwa besok sore ada pengajian remaja. Kebetulan disitu ada dad Julia.

“Bapak-bapak, tolong di beritahukan ke anak-anaknya yang sudah remaja kalau besok sore akan diadakan pengajian remaja,” Ajak Ustadz Bradl, “Karena sering kita lihat, remaja jaman sekarang hanya mengisi hari-harinya disaat puasa dengan sia-sia. Ada yang setuju dengan pengajian remaja ini?” Tanyanya

“Saya setuju” Ucap dad Julia semangat

“Saya juga setuju pak Ustadz” Sambung dad Rafa, yaitu dadnya Rins

“Yang lain?” Tanya ustadz Bradl ke yang lainnya

“Setuju” Jawab bapak-bapak yang lain serentak

“Terima kasih atas partisipasinya. Kita tutup acara ini dengan hamdalah” Ajak ustadz Bradl

“Alhamdulilah” jawab semuanya serentak. Lalu semuanya pergi kerumah masing-masing

***

Rins yang siang itu sedang menonton TV dirumahnya, langsung diganggu adiknya yang bandel. Rins menatap sinis adiknya

“Kenapa bang? Mau ini?” Tanya Malik polos sambil nawarin es mambo yang dipegangnya ke Rins

Rins menggelengkan kepalanya “Engga, ga mau. Kan gue lagi puasa Malikkk” Tekan Rins

“Beneran ga mau bang? Malik lagi baik hati loh ini” Tanya Malik lagi lalu menyeruput es nya itu. Malik memang masih berumur 3 tahun, belum kuat untuk berpuasa

“Et dah lu, giliran gue lagi ga puasa lu pelit banget sama gue. Giliran pas sekarang gue puasa, lu malah nawar-nawarin es kek gitu” Protes Rins

“Ihh, abisnya Malik kasian liat abang ga makan sama minum dari pagi” Jelas Malik polos

“Namanya juga orang puasa ga boleh minum sama makan lah. Udah itu es buat lu aja Lik” Kata Rins kesel

“Ihh, abang jangan kesel gitu dong ke Malik, ntar puasanya batal lho”

“Eh, lu masih kecil udah bisa nasihatin yang tua ya” Ucap Rins mencoba sabar

“Kan aku sering dengerin ceramahnya ustadz Bradl bang di masjid. Makanya abang ngaji dong!” Seru Malik

“Au dah terserah lu Lik Lik” Kata Rins lalu pergi kekamarnya

***
Ting tong...

Bel pintu rumah keluarga Marquez berbunyi. Karena Marc sedang dikamar, jadi Alex yang membukakan pintunya.

“Eh dad sudah pulang” Kata Alex lalu salim

“Iya nih Lex” Jawab dad Julia lalu duduk di sofa diikuti Alex yang juga duduk di sofa dan melanjutkan menonton acara TV

-SKIP-

Adzan Maghrib berkumandang. Keluarga Marquez siap untuk berbuka puasa. Alex yang sudah tidak sabar untuk menyantap hidangan berbuka, langsung mengambil kolak buatan mom Roser. Namun, tangannya sudah di tepis oleh Marc terlebih dahulu.

“Woy Lex! Baca doa dulu lah” Ucap Marc ga nyantai

“Iya dah nih gua baca doa” Sahut Alex lalu nengangkat kedua tangannya untuk berdoa.

Marc, Alex, dad Julia, dan mom Roser pun berbuka. Alex dengan lahap menyantap hidangan berbuka. Tapi disela-sela mereka berbuka, dad Julia menyampaikan ajakan ustadz Bradl tadi siang ke Marc dan Alex

“Marc, Alex. Besok sore kalian ada pengajian remaja di masjid” Jelas dad Julia. Seketika Alex langsung terbatuk

“Uhuk..” Alex langsung minum

“Makanya, kalo makan pelan-pelan Lex” Pinta dad Julia

“Iya dad maaf, aku kaget” Jawab Alex

“Dasar!!” Ucap Marc sinis ke Alex

“Jadi gimana? Kalian mau ngaji kan?” Tanya dad Julia

Marc mengangguk semangat, Alex terpaksa harus ikut mengaji.

***

“APAAA??!!” Teriak Rins

“Adaww, kalo ngomong pelan-pelan dong bang! Kuping Malik sakit nih” Pinta Malik sambil mengelus-elus telinganya

“Eh lu anak kecil diem dulu dah,” Pinta Rins ke Malik, lalu mengalihkan pandangannya dari Malik ke dadnya, “Aku belum siap ngaji dad” Lanjutnya

“Pokoknya, kamu harus ngaji Rins! Percuma kalo puasa tapi ga ngelakuin ibadah yang lain” Jelas dad Rafa
Rins langsung manyun dan berbalik arah ke momnya, “Momm...” ucap Rins masih manyun ke momnya

“Sudah, kamu ngaji aja Rins” Ajak momnya

“Iya deh mom, dad” Ucap Rins terpaksa

“Hahaha kasian deh abang, disuruh ngaji” Ejek Malik lalu masuk ke kamarnya

Rins mendengus kesal

“Udah, makan dulu. Abis ini kita tarawih” Ajak momnya Rins

***
Diperjalanan menuju masjid, keluarga Marquez bertemu dengan keluarga Rins. Para orang tua jalan duluan. Sementara anak-anaknya membuntuti dari belakang.

“Rins, muka lu kenapa manyun gitu?” Tanya Marc. Alex menoleh ke arah muka Rins

“Itu tuh bang Marc, abang Rins disuruh ngaji sama dad” Sela Malik. Ya memang, Malik adiknya Rins ini memang comel

“Beneran Rins?” Tanya Alex

“Iyaaa” Jawab Rins singkat

“Sama dong kalo gitu. Gue juga males kalo ngaji” Ucap Alex

“Hah? Serius lu juga disuruh ngaji juga?” Tanya Rins berkali-kali

“Iyaa,” Jawab Alex. Sejenak ia diam. Lalu mendapat sebuah ide yang cemerlang dan bilang ke Rins, “Rins, gue ada rencana nih biar kita ga bisa pergi ngaji” Bisik Alex

“Apaan Lex?” Bisik Rins juga

Malik yang sedang melihat mereka berdua, langsung narik-narik baju Marc

“Bang Marc, liat tuh abang Rins sama abang Alex ngapain” Kata Malik

Marc lalu berdehem, “Ehem, lu pada bisikin apa?” Tanya Marc

Alex dan Rins kaget lalu langsung tersenyum agar Marc tidak curiga dengannya

“Engga kok Marc” Jawab Alex

“Oh yaudah” Kata Marc

Kemudian Alex mengedipkan sebelah matanya ke Rins, pertanda besok mereka akan melakukan suatu rencana.
 
To Be Continued...

Sumpah ini cerita aneh bin gaje -_- sekali lagi maaf kalo cerita ini ga lucu. Tapi aku sih berharap kalian suka :) Komentar, Saran, dan Kritik selalu aku tunggu ^^