Senin, 21 Juli 2014

Only You #3





Udah lama aku ga ngelanjutin FF gara-gara sibuk ngurusin sekolah, akhirnya bisa ngelanjutin juga haha. Happy Reading guys ^^

Semua mata kuliah sudah selesai. Waktunya mahasiswa dan mahasiswi berhamburan pulang kerumahnya. Kebetulan hari ini Luna tidak dijemput oleh supirnya, karena ada sesuatu hal. Luna berjalan menuju gerbang kampus. Tiba-tiba dari kejauhan ada yang memanggil namanya

“Lunaaaa” panggil seseorang

Luna menengok kebelakang. Terlihat Marc yang sedang berlari mengejarnya. Marc mendekat dengan napas yang masih tersengal-sengal.

“Ada apa Marc?” Tanya Luna. Marc masih mengatur napasnya

“Kamu pulang dengan siapa? Di jemput supir?” Tanya Marc

“Hmm.. tidak. Sepertinya aku harus naik taksi. Soalnya supirku ada urusan” Jawab Luna

“Mau pulang denganku?” Tanya Marc

“Boleh” Jawab Luna lalu tersenyum

Lalu mereka berjalan menuju tempat parkir. Namun, belum sampai tempat parkir, mereka berdua melihat Scott mendekat ke arah mereka

“Lun, boleh kita bicara berdua sebentar?” Tanya Scott sambil memegang tangan Luna. Tapi Luna menepisnya dengan kasar

“Mau bicara apa?” Tanya Luna yang mendongak ke atas. Ya, karena Luna kalah tinggi dengan Scott. Bahkan tinggi Scott melebihi tinggi Marc

Scott melihat ke arah Marc sekilas. Lalu berbicara, “Boleh kamu meninggalkan kita berdua sebentar Marc” Pinta Scott ke Marc

“Baiklah. Aku tunggu di tempat parkir Lun” Jawab Marc sambil tersenyum ke Luna lalu pergi meninggalkan mereka berdua

“Mau bicara apa?” Tanya Luna sekali lagi

“Masalah tadi malam, aku minta maaf ya,” Scott mengatur napasnya “Aku menyesal telah melakukannya. Semenjak kita putus tadi malam, wanita itu pergi begitu saja dari hadapanku” Ungkapnya

“Lalu?” Tanya Luna cuek

“A..Aku minta maaf” Kata Scott terbata bata

Luna melirik sekilas wajah Scott yang tampak menyesal

“Permintaan maaf mu tidak bisa mengobati rasa sakitku melihatmu berduaan dengan wanita lain Scott” Ucap Luna sambil menahan air matanya

“Aku minta maaf Lun. Aku benar-benar menyesal” Kata Scott dengan penuh sesal

Luna diam sejenak, Scott benar-benar tulus minta maaf. Tidak biasanya dia menyesal seperti ini batin Luna.

“Baiklah aku maafkan. Tapi kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini Scott” Jawab Luna

“Terima kasih Lun,” Scott mengambil kedua tangan Luna, “Apa kita masih bisa berteman?” Tanya Scott

“Iya,” Luna melepaskan tangannya, “Aku mau pulang dulu Scott” Lanjutnya

“Baiklah” Kata Scott sambil tersenyum

Luna tersenyum lalu pergi menuju  tempat parkir. Marc sudah menunggunya disana. Dia berjalan sangat terburu-buru. Terlihat dari kejauhan Marc sedang menunggu di samping mobilnya sambil memainkan kunci mobil

“Maaf sudah membuatmu lama menunggu Marc” Kata Luna

“Ya gapapa,” Jawab Marc lalu membukakan pintu mobilnya, “Masuklah” Pintanya

Mereka pun meninggalkan halaman kampus menggunakan mobil Marc. Didalam mobil, Luna hanya diam. Sesekali Marc melirik wajah Luna. Tidak ada air mata, tidak ada raut kesedihan yang tampak di wajah Luna. Marc pikir, jika Luna bertemu dengan Scott, Luna akan menangis. Ternyata tidak. Prediksinya salah. Luna tampak biasa saja. Marc makin penasaran dengan pembicaraan Luna dan Scott tadi. Diberanikannya ia membuka mulut

“Lun, tadi Scott bilang apa aja?” Tanya Marc memecah keheningan di dalam mobil

“Dia cuma minta maaf” Jawab Luna

“Lalu, kamu memaafkannya?” Tanya Marc sekali lagi

“Iya, tampaknya dia tulus minta maaf padaku. Lagian kita ga melanjutkan hubungan lagi kok. Kita hanya berteman sekarang” Jawab Luna lalu tersenyum

“Benarkah?” Tanya Marc yang tampak senang

“Iyaa” Jawab Luna. Marc hanya tersenyum

Mobil Marc berhenti di depan rumah Luna. Luna melepaskan sabuk pengaman yang ada ditubuhnya, bersiap-siap untuk keluar mobil.

“Terima kasih Marc sudah mau nganterin aku pulang” Ucap Luna

“Sama-sama” Jawab Marc

Luna membuka pintu mobil. Bersiap untuk keluar. Namun tangannya di tahan oleh Marc. Luna menoleh kearah Marc.

“Ada apa Marc?” Tanya Luna bingung

“Hmm Lun, nanti malam kamu ada acara ga?” Tanya Marc. Ia melepaskan tangannya dari tangan Luna

Luna berpikir sejenak, “Ga ada, Kenapa?” Luna menunjukkan senyum manisnya

“Nanti malam kita makan bareng yuk” Ajak Marc

“Hmmm... Boleh” Jawab Luna

“Nanti malam jam 7 aku jemput ya. Kamu dandan yang cantik, oke?” Pinta Marc

“Siap boss” Jawab Luna sambil hormat ke Marc. Mereka pun tertawa

***

Marc memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Ia keluar dari dalam mobil dengan langkah yang sangat cepat lalu masuk kerumah. Tumben rumah sepi batin Marc. Ia pun menaiki tangga untuk ke kamarnya. Ia buka pintu kamarnya, tanpa ditutup kembali. Direbahkan tubuhnya di atas kasur, dan tasnya di lempar juga di atas kasur. Alex yang kebetulan melintas di depan kamar Marc, melihat dengan jelas kakaknya ngomong-ngomong sendiri. Aneh. Ya, kata itu lah yang ada di benaknya sekarang. Alex pun masuk ke kamar Marc lalu mengagetkannya

“Duuuuuaaarrrr...” teriak Alex mengejutkan Marc. Marc pun kaget dan langsung toyor kepala Alex

“Ngagetin aja kamu Lex. Jantung mau copot nih mau copot” Protes Marc sambil megang-megang dadanya

“Halah lebay, kenapa ngomong-ngomong sendiri Marc?,” Alex duduk di samping Marc, “kaya orang gila aja, emm aku tau..” Katanya

“Apaaa??” tanya Marc

“Pasti ketularan kulit manggis ada ekstraknya ya? Makanya ngomong-ngomong sendiri hahaha” jawab Alex lalu tertawa terbahak-bahak

“SHUUUTT UPPPP!!,” Marc menutup-nutupi mulut adiknya sampai terjungkang ke kasur, “Bukaan. Sok tau kamu”

“Hhmm, pasti masalah cewek. Yakan, yakaaaaaaaannn??” ledek Alex sambil coel-coel pipinya Marc

“Kamu ga perlu tau,” mukanya memerah. Marc langsung menggiring Alex keluar dari kamarnya, “Udah sana-sana keluar Lex!” serunya

“Cieee pipinya merah meronaaa cihuyy. Cieee cieee yang udah deket sama cewek” ledek Alex lagi yang badannya masih di dorong-dorong Marc

Marc langsung mengunci pintu kamarnya lalu mendengus kesal

***

Malamnya, Luna bersiap untuk pergi makan dengan Marc. Dia memakai dress berwarna merah. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. Sebenarnya Luna sudah cantik natural, makanya dia tidak usah repot-repot berdandan. Tak lupa dia membawa tas tangan kecil, dan HP pastinya. Dia berjalan menuruni tangga rumahnya. Diruang tamu dia melihat mommy nya yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah. Mommy nya tampak bingung dengan Luna, tidak biasanya dia keluar rumah malam-malam dengan paras cantik seperti ini

“Lho Lun,” Mommy nya bangkit dan menaruh majalahnya di sofa, “Kamu mau kemana malam-malam gini? Pakai dress segala?” Tanya mommy nya

Luna menepuk keningnya, “Oh iya aku lupa memberi tahu mommy hehe,” Dirapikannya poni yang menutupi matanya, “Aku mau makan sama Marc mom” Jelas Luna yang semakin membuat mommy nya bingung

“Marc? Siapa dia? Ga sama Scott?” Tanyanya berkali kali

“Marc itu teman kampusku mom. Dan Scott, hmmm,” Luna menarik napas, “Aku sudah putus sama dia. Dan sudah tidak menjalin hubungan apa-apa lagi” Jelasnya

“Oooh begitu,” Mom nya merapikan sedikit baju Luna yang terlipat, “Kamu mengingatkan masa muda mommy dengan daddy mu” Ucap mom nya.

Daddy nya Luna memang sudah meninggal sejak Luna kelas 2 SMA akibat kecelakaan. Mommy nya sangat terpukul. Luna dan mom nya mencoba melupakan kejadian itu

Luna meraih tubuh mom nya dan memeluknya, “Maaf mom, aku sudah membuatmu sedih” Perlahan air mata Luna turun

Mom nya melepaskan pelukannya. Menghapus air mata anaknya dengan kedua ibu jarinya

“Kok jadi kamu yang nangis sih? Hey, kamu kan mau pergi sama Marc, hm?” Tanya mommy nya

Tinn..Tinn..

Terdengar suara klakson mobil dari arah luar

“Tuh kan Marc sudah datang” kata mom nya

“Oh iya, aku berangkat dulu ya mom”

“Hati-hati sayang” Kata mommy nya

“Iya mom” Luna lalu pergi keluar. Mommy nya memandang punggung anaknya itu. Dan tanpa sadar, air matanya jatuh membasahi pipi wanita paruh baya itu. Cepat-cepat ia mengusap air matanya

Luna berjalan keluar menghampiri Marc. Lelaki itu sudah menunggunya. Ekspresinya berubah ketika melihat penampilan Luna malam ini, ia tampak terpesona seperti sedang melihat bidadari yang turun dari surga #Eaak. Luna berjalan pelan ke arah Marc. Marc tersenyum menunjukkan deretan giginya. Lama kelamaan Luna semakin dekat dengan Marc. Tapi ada yang aneh, kenapa matanya Luna merah?

“Eh, Lun. Mata kamu kenapa merah? Abis nangis?” tanya Marc

“Ohh gapapa kok Marc”

“Seriusan gapapa?” tanya Marc lagi

“Iyaa Marc. Emang kenapa? Jelek ya aku?”

“Eh.. bu..bukan gituu,” Jawab Marc gugup, “Kadar kecantikan kamu ga berkurang kok walaupun lagi nangis” gombal Marc

“Ihh gomball” ucap Luna sambil memukul pelan dada Marc

“Hahaha,” Marc membukakan pintu mobilnya, “Masuk lah”

Luna pun masuk kedalam mobil, disusul dengan Marc yang duduk disampingnya untuk menyetir. Marc langsung tancap gas menuju restaurant

Mobil Marc berhenti di halaman restaurant. Marc buru-buru keluar mobil, lalu membukakan pintu untuk Luna keluar. Luna hanya tersenyum sambil menunduk tersipu malu. Mereka berjalan kedalam restaurant, lalu duduk berhadapan. Dilanjutkan dengan memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan mereka datang, mereka pun mengobrol

“Hmm Marc, kamu ngapain ya ngajak aku kesini? Tumben” tanya Luna

“Sebenarnyaa,” belum selesai bicara, pesanan mereka datang, “Nanti saja, makan dulu ya” pinta Marc

“Yasudah”

Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku gugup melakukannya batin Marc sambil mengaduk-aduk pasta yang di pesannya.

“Marc, kenapa pastanya hanya di aduk-aduk? Dimakan dong” kata Luna sambil memotong steak nya

“Oh iya,” Marc nyengir lalu memakan pastanya, “Hmm, Lun aku mau ngomong sesuatu sama kamu”

“Apa?” Tanya Luna

“Taruh dulu pisau sama garpu mu” pinta Marc

Luna pun mengikuti permintaan Marc, “Sudah. Mau ngomong apa?” tanyanya penasaran

Marc mengambil kedua tangan Luna

“Kamu tahu, sejak aku pertama melihatmu, aku sudah suka sama kamu Lun,” Marc diam sejenak. Luna hanya tercengang mendengar penjelasan Marc,”jadi, kamu mau ga menjadi pacar ku?” tanya Marc

Luna masih terdiam. Bingung. Ya, hanya kata itu lah yang ada dibenak Luna sekarang.

“Kamu serius? A..aku takut kalau nantinya kamu seperti Scott” ucap Luna. Ia hanya menunduk

“Aku janji tidak akan seperti Scott, Lun. Aku sayang sama kamu,” tangannya masih menggenggam tangan Luna, “jadi?” tanya Marc sekali lagi

Luna mengangguk lalu tersenyum

“Hah terima kasih Lun” kata Marc lalu mengecup lembut punggung tangan Luna

“Hehe,” Luna terkekeh, “Makan dulu yuk” ajaknya. Marc mengangguk semangat

Setelah makan, Marc mengantarkan Luna pulang. Di dalam mobil, mereka berdua terus-terusan tertawa dan sampai akhirnya mobilnya Marc sudah berada di depan rumah Luna

***

Besoknya, Marc bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Dengan semangat ia menuju mobilnya. Kurang lebih 10 menit, mobilnya sudah berada di halaman kampusnya. Ia keluar mobil, dan tak lupa membawa tasnya. Buru-buru ia menuju kelasnya untuk bertemu Dani.

Sampai didepan pintu, Marc melihat Dani sedang menulis sesuatu dibukunya. Ia berjalan pelan tanpa suara agar tidak diketahui Dani. Diam-diam Marc mengintip tulisan yang ditulis Dani. My Lovely Ines Claudya. Itulah tulisan yang ditulis Dani. Marc langsung toyor kepala Dani dari belakang. Sontak, Dani menengok kebelakang

“Ih, situ dateng dari mana? Dateng-dateng langsung toyor kepala orang lagi” Protes Dani

“Haha maaf maaf. Oiya Dan,” Marc duduk disebelah Dani,” Ada kabar gembira lho” lanjutnya

Dani mengerutkan dahinya, “Kulit manggis ada ekstraknya ya?” canda Dani

“Ih, kamu sama aja kaya Alex. Kulit manggis apaan tau”

“Nah, itu si Alex aku yang ngajarin tuh hahaha”

“Ajaran sesat haha” canda Marc

“Emang apa sih kabar gembiranya?” tanya Dani penasaran

Marc hanya bisa nyengir

“Yeeee, malah nyengir lagi” cibir Dani

“Haha, gini nih,” Marc mendekatan mukanya ke Dani,” Aku pacaran sama Luna” bisiknya

“Waaaah akhirnyaaaa temenku yang satu ini udah punya pacar jugaaaa,” Dani menepuk-nepuk pundak temannya, “Congrats ya broooo” lanjutnya

“Thank you broo haha”

“Traktiran laah” kata Dani sambil mengedip-ngedipkan matanya

Marc menatap sinis Dani, “Waktu situ pertama jadian aja ga nraktir” protesnya

“Eh iya ya” Dani lalu nyengir

***

Jam istirahat datang, Luna sibuk memasukan buku-bukunya kedalam tas. Sahabatnya, Ines sudah lebih dahulu keluar kelas. Saking buru-burunya ia memasukan buku ke dalam tas, tak sengaja salah satu bukunya ada yang jatuh. Belum sempat ia mengambil bukunya, ternyata ada seseorang yang mengambilnya. Luna mendongak ke atas, ternyata..

“Marc?” sapa Luna kaget

Marc memberikan buku Luna yang terjatuh. Luna mengambilnya lalu memasukan buku itu ke tasnya

“Terima kasih” kata Luna lalu tersenyum

“Yap sama-sama,” Marc mengacak-acak lembut rambut Luna,” ke kantin yuk” ajaknya

“Ayuuk”

Mereka pun berjalan berdua ke kantin, sambil bercanda-canda ria. Tapi, ada yang aneh. Luna daritadi tidak melihat Scott. Untungnya ada Jennifer -Teman sekelas Scott- yang lewat didepannya, karena penasaran, Luna pun bertanya ke Jennifer

“Jenni, Scott kemana? Kok ga keliatan daritadi” tanya Luna

Scott kemana? Kok ga keliatan daritadi. Entah, kata-kata itu membuat hati Marc sakit. Apa Luna masih mengharapkan Scott? Hmm, tapi aku ga boleh berprasangka buruk. Toh, kemarin dia sudah berteman, dan ga ada hubungan apa-apa batin Marc

“Lho, emang kamu belum tau Lun?” tanya Jenni

Luna mengerutkan dahinya, “Kenapa memangnya?” tanya Luna sekali lagi

“Scott sudah pindah kampus, katanya sih ke Perancis” jawab Jenni

Pindah? Batin Luna, “Oh ok, thanks Jenn”

“Sama-sama” Jenni langsung meninggalkan mereka berdua yang masih tampak bingung

Marc menggandeng tangan Luna untuk menuju ke kantin

***

“Beb, kamu tau ga?” tanya Dani

“Apa beb?”

“Marc sudah jadian sama Luna lho” jelas Dani

“What? Serius kamu beb?” tanya Ines yang tampak kaget

“Iyaa, tadi Marc sendiri yang bilang ke aku”

“Tapi kok Luna sendiri ga bilang ke aku ya” cetus Ines

“Hmm, mungkin dia malu haha” kata Dani lalu tertawa

“Malu kenapa? Aku kan sahabatnya”

“Entah”

Sedang asyiknya mereka ngobrol, bel masuk berbunyi. Ines buru-buru ke kelasnya untuk menemui Luna. Ternyata di kelas, Luna belum tampak. Ines lalu duduk di kursinya. Dan tak lama, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang

“Lun, kamu udah jadian sama Marc?” tanya Ines

“Iyaa hehe, tau darimana?” tanya Luna balik

“Dani dong. Oiya btw congrats yaaa” ucap Ines

“Makasih temaaan”

“Sama-sama,” Ines tersenyum, “Tapi, kenapa kamu ga ngasih tau aku sih?”

“Ah maaf Nes” Luna terkekeh

Ines menatap sahabatnya itu sejenak, “Oke lah”

***

“Lun, pulang bareng yuk!” ajak Marc

“Yah, aku bawa mobil sendiri nih” jawab Luna

“Hhmm, tapi lain kali bareng aja ya sama aku” Marc terkekeh

“Haha oke, aku pulang dulu ya” kata Luna lalu tersenyum

“Hati-hati ya”

“Iyaa hehe”

Luna langsung menuju mobilnya, dan langsung tancap gas. Tampaknya, ia sangat senang hari ini. Di tengah jalan, ia menginjak rem mobilnya. Tapi, ada yang aneh. Kenapa remnya tidak berfungsi? Berkali-kali ia menginjak remnya, tapi masih tidak berfungsi. Remnya blong!. Di depannya tampak orang sedang menyebrang. Refleks, Luna langsung membanting stir. Namun, mobilnya menabrak pembatas jalan. Bagian depannya hancur, dan Luna tidak sadarkan diri. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung membawanya kerumah sakit

***

Marc merasakan handphonenya bergetar di saku celananya. Ia ambil handphonenya lalu melihat nama yang meneleponnya. Dani. Ia yang meneleponnya

“Halo?”

“Marc, gawat Marc”

“Kenapa sih?”

“Luna kecelakaan”

“Apa? Kok bisa? Dimana dia sekarang Dan?” tanya Marc mulai panik

“Nanti aku SMS alamat rumah sakitnya ya”

“Oke, makasih Dan” Marc menutup percakapannya dengan Dani

Tak lama, handphonenya bergetar, ada pesan masuk. Ya, itulah alamat rumah sakitnya. Marc langsung menuju rumah sakit yang di SMS Dani tadi. Hatinya gelisah

Setelah sampai di rumah sakit, ia bertemu dengan Dani. Mereka berjalan cepat menuju ruangan Luna. Disana sudah ada mommy nya Luna yang sedang menangis dipelukan Ines. Marc ingin bertanya ke mom nya Luna, tapi ia urungkan niatnya karena melihat mom nya Luna yang terisak. Ia duduk dengan gelisah di ruang tunggu

Tak lama, dokter yang menangani Luna keluar. Semua yang sedang menunggu lalu berdiri

“Bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya mom nya Luna yang masih terisak

“Anak ibu masih belum sadar, tapi..” dokter tersebut diam sejenak

“Tapi kenapa dok? Kenapa?” tanya mom nya Luna

Marc, Dani, maupun Ines hanya gelisah menunggu pernyataan dokter tersebut. Air mata Ines sudah tidak 
terbendung daritadi. Sementara Marc, ia mencoba tegar. Ia tidak mau menangis di depan semua orang

“Luna kenapa dok?” kali ini Ines yang bertanya

“Luna mengalami..”


To Be Continued....


Gaje ya? Iya emang gaje haha. Comments below or mention on my twitter. Thanksssssssssssss :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar