Senin, 09 Juni 2014

Only You #2




Haaaii, I’m come back ^^ Sebelumnya, aku mau ngucapin makasih banyak buat kakak2, udah ngasih saran ke aku yang notabene nya masih pemula *malah pidato* hahaha. Maaf yaa aku kelamaan ngelanjutinnya hehe. Oiya maaf juga kalau cerita ini gaje. Happy Reading! :)

Luna’s POV

Aku menekan bel yang berada tepat disamping pintu rumahku sambil sesekali mengusap air mataku agar mommy tidak curiga. Beberapa kali aku menekan bel itu, namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah, “Aduhh... mom cepat buka lah, aku sudah ga kuat” gerutuku dalam hati.
Yap perlahan pintu rumah terbuka. Menampakkan  wajahnya yang terlihat bingung

“Lun, kamu kenapa?” tanya mommyku dengan wajah yang kebingungan

“ga apa-apa kok mom” jawabku dan memaksakan bibirku ini untuk tersenyum dihadapan mommy

“beneran kamu? Kalau ada masalah, cerita saja sama mommy nak” pinta mommyku sambil memegang kedua pundakku

“iya mom, aku ga ada masalah apa-apa” jawabku terpaksa bohong ke mommy.

Aku pergi keatas, ke kamarku lebih tepatnya. Meninggalkan mommyku yang masih terlihat kebingungan, aku minta maaf mom. Aku menaiki tangga dengan perasaan sedih dan kesal. Mataku tidak bisa berhenti mengeluarkan benda cair bening ini. Hatiku sangat sakit melihat Scott berpaling dariku.
Dengan cepat aku membuka pintu kamar dan merebahkan tubuhku di kasur. Aku terisak pelan. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00.

“Aish.. sudah jam 10 ternyata. Daripada aku nangis begini, lebih baik aku tidur aja deh. Besok juga kuliah” ucapku yang kemudian tertidur

***
Author’s POV

Pagi itu, di Barcelona International University, para mahasiswa dan mahasiswi memulai mata kuliah masing-masing di kelasnya. Marc sekelas dengan Dani, sedangkan Luna sekelas dengan Ines.

“Lun, kamu kenapa? Ga biasanya mata kamu sembab gitu. Abis nangis ya?” tanya Ines yg duduk bersebelahan dengan Luna

“Heh? Ini?” tanya Luna lagi sambil menunjukkan matanya

Ines mengangguk. “Ohh iya aku abis nangis tadi malam” jelas Luna cuek sambil memainkan pulpennya

“kenapa? Ga biasanya kamu nangis sampai mata sembab gitu” tanya Ines sambil mencari bukunya di dalam tas

Luna menghela napas sejenak lalu berkata, “Aku putus sama Scott” cetus Luna cuek

“AAAPPPPAAAA??!!” ucap Ines dengan nada tinggi yang membuat seisi kelasnya mengalihkan perhatian ke mereka berdua

“Sssssttt, pelan pelan dong ngomongnya Ines cantiiiikkk” tegas Luna sambil menutup mulut temannya itu

“Ehehe iya maaf ya Lun. Aku keceplosan” terang Ines sambil senyum-senyum malu

“Iya aku maafin” jawab Luna yang dilanjutkan mengambil bukunya dari tas

“Kenapa bisa putus? Bukannya kalian mesra banget ya?” tanya Ines yang ga ada habis-habisnya

“Mesra? Itu dulu Ness. Aku sama Scott putus soalnya dia selingkuh. Dan parahnya lagi, aku melihat dia sama selingkuhannya itu sedang bermesraan” jelas Luna sambil senyum menahan air mata

“Kurang ajar Scott. Mau cari masalah tuh orang? Ha? Berani-beraninya nyakitin sahabatku” seru Ines sambil menggebrak mejanya. Dan lagi-lagi mengundang perhatian teman-teman sekelasnya

“Ines!! Diem ih” ucap Luna

“Kamu yang sabar ya Nes,” pinta Luna, “Aku yakin kamu kuat kok” Lanjutnya sambil mengelus-elus pundak Luna

“iyaa makasih ya Ness” Luna tersenyum

Tak lama, Mr. Stefan pun memasuki kelas dan memulai pelajaran

***
Marc’s POV

“Eh Dani, mau kemana?” Tanyaku

“Kan ini udah istirahat, biasa lah mau pacaran sama Ines” balasnya dan pergi meninggalkan aku di kelas

“Dasaar!!!” gumamku

Aku pun ke kantin sendirian.Tumben, aku belum melihat Luna di kantin. Apa dia ditaman ya? Lebih baik aku ke taman aja deh sekarang. Tidak sengaja aku melihat Ines dan Dani yang sedang ngobrol. Tapi kali ini ga biasanya mereka ngobrol serius gitu. Penasaran nih. Ada apa ya? Nguping dari jauh aja deh.

“Beb, aku kasian sama Luna” ucap Ines memulai pembicaraan

“kenapa Luna, beb?” Tanya Dani sambil menatap kearah Ines yang sedang menunduk

“Dia  putus sama Scott gara-gara Scott selingkuh didepan Luna beb. Dan semenjak itu, dia jadi pendiam gitu. aku ajak dia kekantin ga mau, kesana ga mau.” Jelas Ines

“ya ampunn, kasian banget ya Luna, beb” ungkap Dani

“iya kasian beb. Kamu jangan kaya Scott ya beb. Aku ga mau” pinta Ines sambil memeluk pacarnya itu

“ga bakal beb. Aku kan setia sama kamu” balas Dani yang kemudian mengelus rambut Ines

Aku kaget mendengar percakapan mereka berdua. Luna. Dimana dia sekarang? Buru-buru aku mencari dia dikelasnya. Lalu, Pandanganku tertuju dengan seorang perempuan yang terduduk di kursi kelasnya sambil menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya. Dan, tampaknya perempuan itu sedang menangis. Aku pun menghampiri perempuan itu

“Luna” Panggilku sambil menepuk pundaknya

Perempuan itu menoleh keatas, ke arah mukaku lebih tepatnya. Tanpa pikir panjang, perempuan itu memelukku yang otomatis membuat jantungku berdetak cepat

“Marc...” ucap Luna yang terisak didadaku

Aku membalas pelukannya itu. Membuat dia lebih kencang mencengkram bajuku

“Menangis lah selagi kau bisa. Keluarkan isi hatimu Lun. Ya, aku tau perasaanmu sekarang” tuturku
Dia melepaskan pelukannya dari tubuhku. Yaah, kenapa harus dilepas Lun? Sebal sebenarnya Luna melepaskan pelukan itu

“Da..Dari mana kamu tau perasaanku?” tanyanya yang masih terisak

“Aku tidak sengaja mendengar percakapan Dani sama Ines. Katanya, kamu putus dengan Scott karena Scott selingkuh, benar?” tanyaku

Luna mengangguk pelan. Lalu berkata, “Sebenarnya, aku ga mau putus sama dia. Aku sudah sayang banget sama dia Marc” jelasnya

“Hei, kamu mau mempertahankannya? Mempertahankan lelaki yang sudah menipumu? Yang sudah menyakiti hatimu?” tanyaku panjang lebar

Luna masih terisak. Aku mengambil tissue yang ada di saku celanaku, lalu memberinya ke Luna
“Ini untukmu, usap air matamu itu” pintaku sambil tersenyum

Luna’s POV

Marc memberiku tissue dan berkata, Ini untukmu, usap air matamu itu sambil tersenyum
Ya tuhan, kenapa lelaki ini baik banget? Aku mengambil tissue itu dari tangannya dan mengusap air mataku

“Terima kasih” ucapku malu-malu

“Sama-Sama Luna. Sudah agak baikan? Makan yuk dikantin. Tuh perutmu udah kaya pasar berisik hehe” candanya

Aku mengangguk sambil tertawa kecil. Marc pun juga ikut tertawa

“Nah gitu dong ketawa, jangan nangis terus. Kan kalo ketawa gini tambah cantik” ucapnya dan dilanjutkan membawaku ke kantin

***
Author’s POV

Setelah makan dikantin, Marc dan Luna bergegas ke kelasnya masing-masing. Tapi di tengah-tengah mereka bercanda, tertawa lepas, Luna menghentikan langkahnya.

“Lho kenapa berenti Lun?” Tanya Marc bingung, takut Luna kembali mengingat kejadian semalam itu

Luna tersenyum, “Terima kasih ya Marc udah bikin aku ketawa lagi, makan bareng dikantin, menghibur aku, daan masih banyak. Ga tau kenapa kalau aku didekatmu, aku merasa nyaman. Apalagi waktu aku peluk kamu tadi” tutur Luna dan mukanya memerah

“Ohaha, kirain ada apa. Dengan senang hati Lun” jawab Marc. Lalu, Marc memegang tangan Luna, dan berkata, “Kalau kamu ada masalah, cerita ke aku. Aku bersedia menjadi buku diary kamu Lun” Pinta Marc.

Luna pun memeluk Marc lagi. Dan dibalas pelukan dari Marc yang dilanjutkan mengelus-elus rambut Luna itu dengan lembut.

“Terima kasih banyak Marc” ucap Luna

“Sama-sama Luna. Kamu senang, aku senang” balas Marc dan melepaskan pelukan itu dengam lembut. Mereka pun ke kelas

***
Ternyata, di kelas sudah ada Dani yang menunggu Marc di bangkunya

“Lah bro, tumben kamu udah ada dikelas?” Tanya Marc heran

“Iyaaa, Inesnya lagi BT. Katanya sih dia kepikiran sahabatnya terus, si Luna tuh” Jawab Dani jengkel

“Hahaha” Marc tertawa

Dani mengerutkan alisnya, melihat ada yang beda dari Marc. Ya, memang tidak biasanya Marc sebahagia gini didepan Dani

“Cieeee ada yang lagi seneng nih” canda Dani. Marc menoleh dengan sinis ke arah Dani. Secepatnya dia menutup kepalanya dengan tangannya. You know lah, Dani takut sama jurus mautnya Marc itu. Tapiii....

“Untung aku lagi seneng. kalau lagi engga, bisa aku jitak lagi kepalamu itu!” Seru Marc

“Iyaa sorry deh. Btw kenapa kamu seneng gitu bro? Ga kaya biasanya” Tanya Dani lagi

“Aku abis sama Luna lho. Dia keliatan seneng gitu waktu deket aku” balas Marc

“Ehem,” Ledek Dani dan menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal, “Semoga kalian cepet jadian deh yaa broo” ungkap Dani sambil menepuk-nepuk punggung temannya itu

“Hahaha. Makasih broo” Balas Marc

To Be Continued...

Komentarnya ditunggu ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar